Tsunami dan Setelah Tsunami Aceh 2004

Berikut dokumentasi kondisi Aceh setelah Tsunami 26 Desember 2004 dan kondisi setelah rehabilitasi dan rekonstruksi.

Konsep Desain Angkutan Massal Kota Banda Aceh Tahun 2015

Pola perjalanan masyarakat kota dalam aktivitas sehari-hari (commuter) mempengaruhi terbentuknya Sistem Transportasi perkotaan.  Sistem transportasi ini terbentuk sebagai akibat dari kondisi sosial budaya, perekonomian masyarakat dan keinginan masyarakat dalam memudahkan pergerakan mereka dari suatu tempat ke tempat lainnya. Kecenderungan masyarakat kota yang tergantung terhadap penggunaan kendaraan pribadi dan meninggalkan angkutan umum telah membentuk pola perjalanan yang negatif bagi sistem transportasi perkotaan. Konsekuensi dari pola seperti ini adalah terjadinya pertumbuhan jumlah kendaraan, yang disertai dengan kemacetan, meningkatnya polusi udara dan suara (kebisingan),  konsumsi energy (fossil fuel) yang berlebihan, dan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas.
Konsep Desain Angkutan Massal Kota Banda Aceh Tahun 2015.

Kota Banda Aceh sebagai ibukota provinsi Aceh saat ini juga memiliki karakteristik permasalahan transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Pertumbuhan populasi kendaraan pribadi yang tinggi telah menimbulkan persoalan bagi kelestarian/keasrian lingkungan kota. Angkutan publik berupa angkutan Perkotaan yang pernah menjadi andalan masyarakat kian hari semakin ditinggalkan. Hal ini disebabkan pelayanan yang tidak disesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi dan teknologi saat ini. Kondisi dan persoalan transportasi di Kota Banda Aceh harus sesegera mungkin diatasi. Apabila tidak, kondisi ini akan menjadi permasalahan besar dan rumit dan semakin sulit di pecahkan.

Pertimbangan utama dalam perencanaan transportasi perkotaanKota Banda Aceh adalah mengefektifkan fungsi dari angkutan umum agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan massal.  Perencanaan koridor dilakukan dengan dengan meminimumkan jarak dan waktu tempuh perjalanan, penyediaan prasarana halte dan sarana bus yang memberi rasa aman dan nyaman bagi pengguna. Perencanaan koridor untuk angkutan massal Kota Banda Aceh dan sekitarnya dilakukan dengan mempertimbangkanjuga ruas jalan eksisting yang dapat dilalui untuk mengakses area CBD (Central Business District) dengan mengintegrasikan pelabuhan dan bandar udara serta pusat-pusat aktivitas lainnya mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah. Berdasarkan hasil studi makapengembangan koridor angkutan massal kota Banda Aceh dan sekitarnya terbagi atas 4 (empat) koridor utama antara lainkoridor 1: Pelabuhan Ulee Lheue– Terminal APK Keudah - Bandara SIM, Koridor 2: Terminal APK Keudah – Darussalam, Koridor 3: Terminal APK Keudah – Mata Ie, Koridor 4: Terminal APK Keudah – Lhoknga

Untuk menciptakan kenyamanan dan keindahan, perancangan Halte  Angkutan Massal Kota Banda Aceh dan sekitarnya menggunakan konsep berdasarkan tema hemat energi dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Perancangan halte angkutan massal Kota Banda Aceh dan sekitarnya mempertimbangkan tiga konsep. Pertama adalah movementyaitu konsep bentuk yang di adopsi dari bentuk pergerakan (movement). Bentuk ini diaplikasikan pada bangunan halte yang seolah-olah bergerak, sehingga bangunan halte tidak hanya statis, melainkan bersifat dinamis. Hal ini untuk menciptakan daya tarik tersendiri pada halte dan diharapkan dapat menarik masyarakat untuk menggunakan halte sebagai fasilitas publik.Kedua adalah Arsitektur Fungsional, yaitukonsep fungsional yang diterapkan pada halte dengan maksud agar perancangan bangunan halte lebih menekankan pada fungsi bangunan. Ketiga adalah Unsur Lokalitas, yaituunsur lokal yang akan ditampilkan pada bangunan halte antara lain adalah berupa ornamen-ornamen khas daerah yang diaplikasikan pada bangunan. Ornamen tersebut akan menjadikan bangunan halte memiliki ciri khas tersendiri, khususnya karakter khas daerah Aceh.

Sarana  dan prasarana Angkutan Massal sebagai sebuah faktor pemenuhan kebutuhan mobilitas dirancang memenuhi 5 (lima) faktor, yaitu: faktor keselamatan dan keamanan (safety), kenyamanan (comfort), kemudahan (accesibility), kehandalan/ketepatan waktu (reliability) dan efisien (efficient). Desain interior bus diciptakanuntuk memberikan pengaruh secara langsung kepada aspek kenyamanan, kapasitas, keamanan dan keselamatan penumpang. Bus yang direncanakan seharusnya memperhatikan kelengkapan fasilitas untuk penyandang cacat, lanjut usia dan aspek gender (humanis). Desain Bus ini juga harus memperhatikan kemudahan naik turun penumpang serta posisi halte yang nyaman dijangkau pejalan kaki.Agar memudahkan pengelolaan dan kenyamanan bus juga difasilitasi pengatur suhu ruangan (AC) dan Security Camera.


Sumber: http://dishubkomintel.acehprov.go.id/index.php/news/read/2015/02/06/32/konsep-desain-angkutan-massal-kota-banda-aceh-dan-sekitarnya.html