Wisata Situs Tsunami, Kapal PLTD Apung

Pengunjung berwisata di situs tsunami kapal PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh, Rabu (28/5/2014). Kapal PLTD Apung berbobot 2.500 ton menjadi salah satu situs tsunami yang ramai dikunjungi wisatawan untuk menyaksikan secara langsung kedahsyatan tsunami 2004.
Situs tsunami kapal PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh

Situs tsunami kapal PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh

Situs tsunami kapal PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh

Situs tsunami kapal PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh


Aceh-Dubai Kerja Sama Kembangkan Sabang

BANDA ACEH - Gubernur Aceh selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang (DKS) memutuskan untuk melakukan kerja sama dengan Manajemen Dubai Port dalam pengembangan pelabuhan Sabang. Keputusan ini diambil setelah Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah melakukan pertemuan dengan DP World, pengelola Dubai Port, di Kantor Pusat DP World, Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa (27/5) siang. 

Pihak Dubai Port juga antusias menyambut tawaran kerja sama ini. “Dalam waktu dekat tim kami akan berkunjung ke Sabang untuk mempelajari secara detail rencana kerja sama antara Pemerintah Aceh dan Dubai Port,” janji Rasyid Abdulla selaku Senior Vice President dan Managing Director Asia Pacific dari DP World.

Sebagaimana dilaporkan Kepala Kepala Investasi dan Promosi (Bainprom) Aceh, Ir Iskandar MSc kepada Serambi via telepon, Rabu (28/5) siang, pertemuan yang ia hadiri itu berlangsung akrab, namun sangat efisien. Dalam pertemuan singkat itu dibahas rencana DP World sebagai operator kelas dunia untuk berinvestasi dan mengelola pelabuhan Sabang. 

DP World sudah melakukan berbagai investasi di berbagai negara, terutama di bidang teknologi, sumber daya manusia, dan fasilitas pelabuhan. Di Indonesia, mereka sudah bekerja sama dengan pelabuhan di Surabaya. 

Gubernur Zaini pun, kata Iskandar, terlebih dahulu berkonsultasi dengan banyak pihak sebelum memutuskan bekerja sama dengan Manajemen Dubai Port. “Setelah melakukan pembahasan dengan beberapa manajemen pelabuhan di dunia, termasuk dengan otoritas pelabuhan di Singapura dan Malaysia, akhirnya Pak Gubernur memilih Dubai Port sebagai mitra kerja sama untuk mengembangkan Pelabuhan Bebas Sabang,” lapor Iskandar. 

Menurut Gubernur Zaini di sela-sela pertemuan itu, dengan pengalaman Manajemen Dubai Port mengelola pelabuhan keempat terbesar di dunia itu, ia optimis Sabang akan menjadi pelabuhan internasional terkenal jika pengelolaannya diserahkan kepada mereka.

Menurut Iskandar, pertemuan itu diawali dengan presentasi dari DP World mengenai profil perusahaan mereka, namun sempat terhenti karena gempa berskala 5,4 skala Richter (SR) mengguncang Dubai. Manajemen perusahaan itu menjalankan prosedur evakuasi dan memerintahkan semua orang yang berada di dalam gedung untuk segera ke luar. Gubernur Aceh dan rombongan otomatis ikut berlari ke luar gedung.

Lima belas menit kemudian, setelah ayunan gempa tak lagi terasa, rapat dilanjutkan dengan presentasi dari Pemerintah Aceh. 

Gubernur Zaini Abdullah memaparkan kebijakan Pemerintah Aceh tentang Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas Sabang, dilanjutkan dengan pemaparan tentang potensi Pelabuhan Bebas Sabang oleh Kepala Bainprom Aceh, Iskandar MSc. 

Selain Rasyid Abdulla, pertemuan penting itu juga dihadiri Flemming Dalgaard (Senior Vice President, Cooperate Strategy DP World), Thomas Butler (Business Development Manager DP World). Sedangkan dari Aceh, Gubernur Zaini didampingi oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Dubai, Heru Sudradjat; Ketua DPR Aceh, Drs Hasbi Abdullah MS; dan Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh, Iskandar MSc.

Sumber Serambi menyebutkan, kemarin sore Waktu Indonesia Barat, Gubernur Zaini dan rombongan sudah tiba di Istambul untuk mengadakan serangkaian pertemuan. Pertemuan pertama dengan Gubernur Istambul, Husain Avni Mutlu, dilanjutkan pertemuan dengan sejumlah calon investor. 

Dalam konferensi bersama dengan Gubernur Aceh, Gubernur Istambul berencana akan membangun hubungan jangka panjang antara Instambul dengan Aceh, melanjutkan hubungan bilateral yang pernah terjalin antara Sultan Selim II dengan Sultan Aceh pada 1568 saat Aceh melawan serangan Portugis. (dik)


Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/05/29/aceh-dubai-kerja-sama-kembangkan-sabang.

ASDP Tambah Trip Kapal Banda Aceh-Sabang

SABANG - PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) menambah jadwal penyeberangan dua kapal yang selama ini melayani pelayaran Banda Aceh-Sabang. Hal ini dilakukan karena sejak beberapa hari terakhir, jumlah pengunjung yang datang ke Kota Sabang meningkat dari biasanya.

Informasi penambahan jadwal penyeberangan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Teluk Sinabang dan KMP Papuyu untuk mengatasi lonjakan penumpang yang berlibur ke Pulau Weh tersebut, disampaikan Kepala UPTD Pelabuhan Balohan, Mawardi, kepada Serambi, Kamis (29/5) kemarin.

Menurut Mawardi, dalam beberapa hari ini jumlah penumpang yang datang ke Sabang mengalami peningkatan. Karena itu, PT ASDP sudah menambah jadwal pelayaran kapal. Ia menyebutkan, KMP Teluk Sinabang yang biasanya hanya berlayar satu trip pada Selasa dan Kamis, mulai kemarin berlayar dua trip.

Begitu juga KMP Papuyu yang biasanya hanya berlayar membantu mengangkut penumpang Ulee Lheu-Balohan dua kali dalam seminggu, yakni Selasa dan Kamis, namun selama sepekan ini kapal tersebut akan berlayar setiap hari. “Kita juga sudah sepakat dengan PT ASDP menambah trip untuk mengatasi arus balik,” kata Mawardi.

Pantauan Serambi, dalam dua hari ini jumlah pengunjung yang datang ke Sabang mengalami peningkatan dibandingkan hari-hari biasa. Bahkan menurut para pemilik mobil rental di Sabang, jumlah pengunjung datang untuk berliburan ke Sabang dalam beberapa hari ini lebih banyak dibandingkan dengan liburan menjelang tahun baru.
“Dalam beberapa hari ini pemilik rental panen, karena pengunjung yang datang ke Sabang lumayan banyak. Bahkan pengunjung datang berliburan ke Sabang kali ini lebih banyak dibandingkan dengan lliburan tahun baru,” kata Saiful Mukhtar, salah seorang pemilik jasa rental mobil.
Informasi lain diperoleh Serambi dari Kabag Humas BPKS Hidayat Syarief SH, menyebutkan semua hotel atau penginapan di Kota Sabang dalam beberapa hari ini terisi semua. Jumlah pengunjung yang terus meningkat, menurut Hidayat, menandakan bahwa Kota Sabang, kini semakin dikenal oleh masyarakat luar.

Para wisatawan yang didominasi dari Jakarta dan Medan itu memadati kawasan objek wisata, yaitu Tugu Kilometer Nol, Gapang, Teupin Layeu, Pulau Rubiah, Taman Laut Rubiah, Benteng peninggalan Belanda di Gampong Anoi Itam, Bate Gendang, Air Terjun Pria Laot, Danau Aneuk Laot, Panorama Bukit Balohan.


Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/05/30/asdp-tambah-trip-kapal.

PLTU Nagan Suplai Arus Listrik ke Medan

MEULABOH - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Suak Puntong, Nagan Raya, pada pertengahan April 2014 silam, sudah mulai menyuplai arus listrik ke pelanggan sebesar 1x100 MW (megawatt). Namun arus listrik tersebut terpaksa disuplai ke Medan hingga Lampung. Sementara untuk wilayah di Aceh belum bisa dilakukan, karena terkendala belum adanya tower transmisi yang menghubungkan dari PLTU ke PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) di Seuneubok, Meulaboh.
PLTU Nagan di Suak Puntong, Nagan Raya
PLTU Nagan di Suak Puntong, Nagan Raya

Manajer PLN Area Meulaboh, Saslizar mengaku, suplai arus dari PLTU Nagan, sudah dilakukan sejak beberapa pekan terakhir, melalui tower di sepanjang jalan lintasan Meulaboh-Geumpang (Pidie) hingga ke Medan. Padahal, arus yang mulai disuplai itu bisa disalurkan di wilayah Aceh melalui transmisi di PLTD Seuneubok, untuk kebutuhan listrik di wilayah Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya hingga kabupaten-kabupaten lain.

“Namun karena terkendala belum ada tower transmisi yang menghubungan arus dari PLTU Nagan Raya ke transmisi di PLTD Seuneubok, arus yang dihasilkan PLTU ini terpaksa dikirim ke Medan dan tidak bisa dinikmati oleh pelanggan di Aceh,” ungkapnya.

Saslizar mengaku, pihak PLN saat ini masih melakukan pertemuan dengan sejumlah pemilik tanah yang terkena pembangunan 62 tower yang sudah direncanakan, berlokasi dari PLTU di Suak Puntong, Nagan Raya hingga ke transmisi PLTD Seuneubok, Aceh Barat.

“Kami sudah delapan kali melakukan pertemuan antara PLN dengan masyarakat terkait pembebasan lahan. Tetapi sejauh ini belum ada titik temu, meski Pemkab Aceh Barat sangat mendukung,” katanya.

Dijelaskannya, jika lahan sudah dibebaskan, maka pihaknya akan segera membangun tower untuk dipasangi kabel listrik yang akan menyuplai arus dari PLTU Nagan ke PLTD Seuneubok. “Kami berharap dukungan dari masyarakat yang tanahnya terkena pembangunan tower, agar listrik dari PLYU Nagan bisa segera kita gunakan,” katanya.(riz)

Durian Lamsujen, Aceh Besar

Durian Lamsujen, Aceh Besar
Durian Lamsujen, Buah durian umur sebulan di perkebunan warga di kawasan Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Rabu (15/5/2014). Diprediksi buah durian di kawasan tersebut akan panen sekitar dua bulan ke depan.


Durian Lamsujen, Aceh Besar
Durian Lamsujen, Aceh Besar

Aceh Akan Menjadi Pusat Industri Dirgantara

BANDUNG - Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haytar yakin Aceh akan menjadi pusat industri dirgantara. Tiga bandar udara (bandara) yang ada di Aceh, yaitu Bandara Sultan Iskandar Muda, Maimun Saleh Sabang, Malikul Saleh Lhomseumawe, kelak diarahkan sebagai bandara transit penumpang/kargo dari Indonesia ke kawasan Eropa dan Timur Tengah serta tempat perawatan pesawat.
Aceh Akan Menjadi Pusat Industri Dirgantara

Rasa yakin tersebut disampaikan Wali Nanggroe saat tampil sebagai pembicara kunci pada seminar nasional ‘Meretas Kebijakan Pembangunan Kedirgantaraan Nasional di Daerah Terdepan dan Terluar dalam Bingkai NKRI,’ di Bandung, Rabu (21/5).

Seminar tersebut diselenggarakan Lembaga Dirgantara Aceh (LDA), dibuka oleh Gubernur Aceh yang diwakili Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Rizal Aswandi. Pembicara dalam seminar tersebut Dr Ing Ilham Akbar Habibie, pakar durgantara nasional, Asop KSAU Mafsda TNI Bagus Puruhito, Marsma TNI Bonar Hutagaol dari Komando Pertahanan Udara Nasional, Ir Muzaffar Ismail MSi, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Andi Alisjahbana dari PT Dirgantara Indonesia.

Wali Nanggroe Malik Mahmud mengatakan, apabila dulu Aceh dikenal sebagai pusat peradaban Islam, maka dalam waktu 5-10 tahun ke depan, Aceh akan bangkit dan dikenal sebagai salah satu pusat inovasi kebangkitan Indonesia di bidang industri kedirgantaraan. “Itulah salah satu mimpi saya dan mimpi seluruh rakyat Aceh,” kata Malik Mahmud.

Ia meyakinkan peserta seminar, bahwa hal itu sangat dimungkinkan terwujud apabila melibatkan seluruh pihak berkompeten. Gubernur Aceh memuji pelaksanaan seminar kedirgantaraan tersebut sebagai bagian meningkatkan pembangunan Aceh dalam bidang kedirgantaraan dan mengajak mengembangkan teknologi industri kedirgantaraan dan kemaritiman.

UUPA pasal 172 dan 173 memberikan kewenangan kepada pemerintah Aceh untuk mengelola bandara dan pelabuhan laut sebagai bagian dari pengembanga  industri kedirgantaraan dan kemaritiman Aceh.

“Merespon amanah UUPA tersebut, Pemerintah Aceh telah menetapkan arah kebijakan pembangunan Aceh jangka menengah dan arah pembangunan Aceh jangka panjang,” kata Gubernur.

Ketua Lembaga Dirgantara Aceh Marskal Muda TNI (Purn) HT Syahril mengatakan Aceh memiliki peluang besar dalam mengukuhkan diri sebagai pusat industri kedirgantaraan. Saat ini Aceh telah memiliki lembaga dirgantara sendiri, merupakan satu-satunya propinsi yang punya lembaga dirgantara.

Lembaga tersebut kemudian mendirikan pusat pendidikan kedirgantaraan yang mengintegrasikan SMK Penerbangan yang berdiri pada 2010, sekolah pilot didirikan 2013 dan institut aeronautika yang sedang dalam proses pendirian.

Hal yang sama juga disampaikan Ilham Akbar Habibie yang menjadi pembicara awal dalam seminar tersebut. Aceh katanya memiliki peluang menjadi pusat industri kedirgantaraan. Untuk itu ia menyarankan agar disiapkan sumber daya manusia. Ia juga memuji syariat Islam di Aceh dan itu bisa dikombinasikan dengan industri canggih.

“Ini kombinasi yang kuat, industri canggih dan syariat Islam. Sama sekali tidak bertentangan. Aceh juga bisa menawarkan pariwisata syariah,” kata putra BJ Habibie ini.

Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa

Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa
Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa

Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa
Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa
Pekerja membuat kapal nelayan di Desa Deah Glumpang, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Selasa (12/5/2014). Kapal ukuran 15 gt dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan dengan biaya mencapai Rp 200 juta lebih. 

Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa
Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa

Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa
Foto Pembuatan Kapal Nelayan di Meuraxa