Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Gampong Lubuk Sukon, Kabupaten Aceh Besar


Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Gampong Lubuk Sukon, Kabupaten Aceh Besar

(Oleh: Issana Meria Burhan, Antariksa, Christia Meidiana, PWK-FT Universitas Brawijaya)

Sejak lama disadari bahwa sistem sosial dan budaya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pola tata ruang permukiman di Aceh. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon, dan mengidentifikasi karakteristik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, serta menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional Gampong Lubuk Sukon yang terbentuk akibat pengaruh sistem sosial budaya masyarakatnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Dari data yang dikumpulkan dari observasi lapangan, kuisioner dan wawancara, menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah Gampong (tumpok), fasilitas umum di bagian agak luar dari Gampong (ujong), dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman (blang). Pada struktur ruang yang terbentuk, meunasah menjadi pusat orientasi Gampong. Pada skala yang lebih mikro, pola tata ruang permukiman masyarakat Gampong Lubuk Sukon terbentuk berdasarkan sistem kekerabatan dari pihak perempuan. Dalam hal ini, rumah orangtua menjadi bangunan inti (pusat) dari kelompok hunian suatu keluarga. Selanjutnya, dalam tataran rumah dan pekarangan, seuramoe keue (serambi depan) menjadi pusat dari bangunan rumoh Aceh. Struktur ruang pada rumoh Aceh menunjukkan dualisme antara ajaran Islam yang cenderung patriarkal, dengan adat peunulang Aceh yang bersifat matriarkal.

Pendahuluan

Konsep tata ruang dalam lingkungan permukiman, berkaitan erat dengan manusia dengan seperangkat pikiran dan perilakunya, yang bertindak sebagai subjek yang memanfaatkan ruang-ruang yang ada dalam hubungan kepentingan kehidupannya. Dalam hal ini, gagasan pola aktivitas suatu masyarakat yang merupakan inti dari sebuah kebudayaan, menjadi faktor utama dalam proses terjadinya bentuk rumah dan lingkungan suatu hunian (Rapoport, 1969:46).

Masyarakat Aceh telah sejak lama mempunyai konsep-konsep dasar mengenai pengaturan tata ruang rumah dan lingkungannya yang sarat akan nilai budaya lokal. Namun, rangkaian kejadian yang terjadi di Aceh secara menyeluruh menyebabkan berkurangnya keberadaan permukiman tradisional, sehingga warisan budaya bangsa Aceh dikhawatirkan tidak dapat bertahan. Masyarakat Aceh sendiri pun mulai mengalami pendangkalan pemahaman terhadap konsep-konsep lokal dalam permukiman tradisional berbasis adat. Sementara itu, terutama setelah bencana tsunami, pembangunan permukiman baru diharapkan dapat memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat yang tidak hanya dinilai secara ekonomis, tetapi juga memperhatikan faktor kultur budaya setempat. Instansi yang terkait dengan program pembangunan permukiman, perlu memahami konsep bermukim pada masyarakat Aceh.

Salah satu permukiman tradisional yang masih bertahan adalah Gampong Lubuk Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Gampong ini terletak di dataran rendah, dekat dengan pegunungan, yang sebagian besar rumah penduduknya adalah rumah panggung tradisional Aceh yang terbuat dari kayu. Rumah-rumah di Gampong Lubuk Sukon, secara bijak dirancang dengan prinsip tahan gempa. Observasi Hurgronje (1985) membuktikan bahwa hunian masyarakat (permukiman) Aceh telah disesuaikan terhadap ancaman bencana gempa dan banjir. Orang Aceh, khususnya yang bermukim di wilayah Banda Aceh (dahulu disebut dengan Kutaradja) dan Aceh Besar, sejak tahun 1600 telah sadar bahwa letak kota mereka secara geografis tidak terlalu baik (Lombard, 2006). Dengan alasan ini pula, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional seperti Muslim Aid, mencoba membangun kembali rumah untuk korban tsunami, dengan bentuk mengadopsi rumoh Aceh di beberapa permukiman penduduk yang terkena tsunami, seperti di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Pola yang terbentuk dari keseluruhan sistem permukiman masyarakat Gampong Lubuk Sukon memiliki makna dan tujuan tertentu berdasarkan konsep-konsep lokal yang telah terbukti dapat lebih diterima oleh masyarakat penggunanya. Kebijakan mengenai aspek adat dan kehidupan Gampong yang tertuang dalam bab VII Qanun nomor 4 tahun 2003 yang menyatakan bahwa Gampong berhak untuk merancang dan menetapkan reusam Gampong (tata krama peradatan di Aceh) untuk mengatur kehidupan warganya, menjadi dasar untuk menghidupkan kembali adat yang semakin menghilang akibat pergeseran nilai-nilai masyarakat.

Penjelasan mengenai konsep bermukim sangat penting dalam kaitannya dengan proses pembentukan lingkungan permukiman. Melalui latar belakang dan pengalaman sejarah, dan pemahaman mengenai pola tata ruang permukiman yang sesuai dengan nilai-nilai tradisional masyarakat Aceh, diharapkan dapat mengakomodasi, menghormati dan memelihara keberadaan Gampong, sekaligus sebagai wujud pelestarian tata ruang tradisional sebagai identitas budaya bangsa.

Oleh karena itu, tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon, Kabupaten Aceh Besar. Kemudian mengidentifikasi pola tata ruang permukiman Gampong Lubuk Sukon, Kabupaten Aceh Besar, dan menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional Gampong Lubuk Sukon yang terbentuk akibat pengaruh sistem sosial budaya masyarakatnya.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif evaluatif, melalui observasi, kuisioner, dan wawancara.

1. Wilayah studi

Wilayah studi adalah Gampong Lubuk Sukon, yang merupakan bagian dari Mukim Lubuk, dengan luas 112 Ha, dan berbatasan dengan Gampong Dham Pulo di sebelah Utara, Gampong Lubuk Gapuy di sebelah Timur, Mukim Lambarieh di sebelah Selatan, dan Gampong Dham Ceukok di sebelah Barat (Gambar 1).

Gambar 1 Peta Gampong Lubuk Sukon
Gampong Lubuk Sukon merupakan bagian dari Mukim Lubuk Kecamatan Ingin Jaya,
Kabupaten Aceh Besar dengan luas 112 Ha. Gampong Lubuk Sukon berbatasan dengan
Gampong Dham Pulo di sebelah Utara, Gampong Lubuk Gapuy di sebelah Timur,
Mukim Lambarieh di sebelah Selatan, dan Gampong Dham Ceukok di sebelah Barat.

2. Metode pengambilan sampel

Pengambilan sampel dihitung dengan rumus Slovin, menggunakan teknik pengambilan proporsional untuk mendapatkan sampel yang merata di seluruh wilayah studi.

Dari 191 unit bangunan, diambil 66 sampel bangunan. Sampel masyarakat didapatkan dari perhitungan yang sama, karena sampel masyarakat merupakan pemilik bangunan.

3. Metode analisis data

a)      Tahap pertama: mengidentifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon
1)      Tinjauan sejarah dan perkembangan Gampong dan budaya bermukim masyarakat Aceh, yang meliputi sejarah munculnya Gampong dan perkembangannya dari masa kerajaan, kolonial, kemerdekaan dan reformasi.

2)      Analisis sosial budaya (Koentjaraningrat, 1982) meliputi sistem kelembagaan; sistem kemasyarakatan/kekerabatan; kehidupan ekonomi; dan kehidupan budaya dan religi.

Hasil interpretasi sejarah dan pengaruhnya terhadap karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon, dijadikan dasar untuk mendukung kajian untuk analisis karakteristik pola tata ruang permukiman tradisional.

b)      Tahap kedua: Mengidentifikasi pola tata ruang permukiman Gampong Lubuk Sukon dan menganalisis kesesuaiannya dengan konsep pola tata ruang tradisional Aceh.
1)      Analisis tata guna lahan dilakukan untuk melihat elemen apa saja yang membentuk ruang permukiman, pengaruhnya terhadap pemanfaatan guna lahan, dan peletakan elemen berdasarkan konsep yang dikenal dalam pola tata ruang tradisional Aceh. Pada tahap ini dilakukan kajian terhadap perkembangan elemen-elemen pembentuk kawasan pedesaan (Oswald & Baccini, 2000), dengan menggunakan analisis before-after. Before mewakili masa awal terbentuknya Gampong Lubuk Sukon (1920-1950), masa perkembangan infrastruktur permukiman di Gampong Lubuk Sukon (1950-1989), dan after mewakili kondisi eksisting saat ini (1989-2006). Selanjutnya, untuk melihat keterkaitan antar elemen-elemen pembentuk kawasan pedesaan, dilakukan analisis dengan teknik super impose. Kajian elemen pembentuk kawasan pedesaan meliputi: - perairan; hutan; permukiman; pertanian; infrastruktur; dan tanah kosong.

2)      Analisis ruang budaya dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan hirarki ruang dan sifat penggunaan ruang yang ada di Gampong Lubuk Sukon. Pendekatan yang dilakukan adalah secara eksploratif, dengan melihat fungsi dan kepentingan ruang permukiman dari hasil analisis kehidupan budaya dan religi dan kegiatan masyarakat sehari-hari.

3)      Analisis pola tata ruang tempat tinggal. Pada tahap ini, analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tiga variabel, yaitu di antaranya: fisik bangunan dan pekarangan; struktur tata ruang tempat tinggal; dan pola tata bangunan.


Hasil dan Pembahasan

1. Karakteristik sosial budaya

a. Sistem pemerintahan

Adat di Gampong Lubuk Sukon berpedoman pada naskah Kanun Syara’ Kesultanan Aceh yang ditulis oleh Teungku di Mulek pada tahun 1270 Hijriah. Pranata politik di Gampong berfungsi untuk memenuhi keperluan mengatur dan mengelola keseimbangan kekuasaan dalam kehidupan komunitas tersebut. Struktur politiknya terdiri atas beberapa status dengan peran tertentu, yaitu Keuchik bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pemerintahan Gampong, terhadap pelaksanaan dan keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan di Gampongnya. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang Keuchik dapat meminta bantuan pertimbangan dari Tuha peut dan Imeum Meunasah. Imeum Meunasah merupakan pimpinan dalam keagamaan dan Tuha peut adalah dewan orang tua yang berpengalaman dan paham mengenai adat dan agama. Untuk urusan yang berkaitan dengan aktivitas pertanian, Keuchik menyerahkan wewenang sepenuhnya kepada Keujruen Blang (kelompok petani).

Selain kelembagaan pemerintahan, terdapat kelembagaan sosial kemasyarakatan yang diikuti oleh penduduk Gampong, yaitu kelompok pengajian, kelompok organisasi wanita, dan kelompok organisasi pemuda. Kedekatan hubungan lembaga-lembaga di Gampong Lubuk Sukon dengan masyarakat ataupun dengan lembaga lainnya dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Diagram Venn Kelembagaan di Gampong Lubuk Sukon
  

b. Sistem kemasyarakatan/kekerabatan

Penduduk Gampong Lubuk Sukon, seperti halnya masyarakat di wilayah Aceh Besar, menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral, memperhitungkan hubungan kekerabatan baik pada pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Hubungan keluarga dalam masyarakat Aceh terdiri dari Wali, Karong dan Kaom. Namun, dalam sistem kekerabatan yang lebih mikro, wujud keluarga besar Aceh terdiri dari keluarga inti senior dan keluarga inti dari anak-anak perempuannya, sesuai dengan adat menetap nikah matrilokal (uxorilocal). Hal ini berarti sesudah menikah, suami menetap di lingkungan kerabat perempuan. Keluarga besar ini hidup dalam rumah yang berada dalam satu pekarangan dan satu kesatuan ekonomi yang diatur oleh kepala keluarga inti senior.

Hukum adat yang berlaku sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda tersebut mempengaruhi orientasi tempat tinggal keluarga batih baru dalam masyarakat Aceh, sehingga pasangan yang baru menikah biasanya bertempat tinggal di rumah mempelai wanita.

Hasil kuisioner, didapatkan bahwa sebagian besar responden sudah bertempat tinggal di Gampong Lubuk Sukon sejak lahir, yaitu sebanyak 77.27%. Dari 51 responden yang merupakan penduduk asli, didapatkan bahwa 68.63% bertempat tinggal di rumah peunulang, yaitu rumah warisan mertua mereka, yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk laki-laki di Gampong Lubuk Sukon menikah dengan wanita sesama warga. Hanya sebesar 31.37% responden yang mempunyai rumah atas nama sendiri. Dari jumlah responden pendatang, 86.67% di antaranya tinggal di rumah peunulang karena mengikuti istri. Jumlah pendatang yang tinggal di Gampong Lubuk Sukon karena ikut istri, berkaitan dengan tradisi menetap menikah di rumah pihak perempuan dalam adat Aceh.

c. Kehidupan ekonomi

Pengelompokan sosial berdasarkan mata pencaharian di masa lalu tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan kepada masyarakat Aceh dalam hal memilih pekerjaan. Saat ini, mata pencaharian penduduk Gampong Lubuk Sukon cukup beragam. Sebagian besar warga Lubuk Sukon bermata pencaharian sebagai petani (37.61%) dan sebesar 8.84% bekerja sebagai buruh tani. Hal ini dikarenakan oleh topografi wilayah yang berupa dataran rendah dan faktor tanah yang sangat potensial untuk daerah persawahan. Meskipun begitu, pekerjaan sebagai petani mulai ditinggalkan penduduk, karena stagnansi dalam bidang pertanian dan pendapatan yang kurang mencukupi. Secara spesifik, berdasarkan hasil dari kuisioner, diketahui bahwa sebagian besar responden bermata pencaharian sebagai petani (31.82%) diikuti dengan profesi sebagai PNS sebanyak 27.27% dan wiraswasta sebanyak 16.67%.

Pergeseran jenis pekerjaan responden dari petani ke mata pencaharian lainnya, dipengaruhi oleh lokasi hunian. Kelompok hunian Darul Ulum dan Darusshalihin yang lebih dekat dengan jalan lokal primer, yaitu pada sebelah Selatan Gampong, lebih banyak yang bermata pencaharian sebagai PNS atau swasta/wiraswasta. Kelompok hunian yang lebih dekat dengan persawahan dan kebun/ladang seperti kelompok hunian Darussalam dan Darul Makmur masih didominasi pekerjaan sebagai petani maupun buruh tani.

d. Kehidupan budaya dan religi

Tata nilai dan kepercayaan yang berkembang pada masyarakat Gampong Lubuk Sukon adalah adat Aceh Besar dan Islam. Keseluruhan masyarakatnya merupakan pemeluk agama Islam, dan secara umum dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, bahkan terkesan fanatik. Masyarakat masih memegang adat Aceh yang tercantum dalam Hadih Maja hasil kesimpulan dari Musyawarah Besar Kerukunan Rakyat Aceh pada tahun 1098 H, sebagai pedoman dalam pergaulan masyarakat. Adat dan tradisi dilakukan melalui ritual-ritual yang berkaitan dengan daur hidup (kelahiran dan pernikahan), kegiatan keagamaan (Maulid Nabi, Nuzulul Quran, dan Isra’ Mi’raj), dan aktivitas pertanian yang berkaitan dengan mata pencaharian penduduk (Kanduri Blang).

Ritual-ritual yang dilakukan masyarakat Gampong Lubuk Sukon melalui tahapan-tahapan yang menggunakan ruang tertentu, sehingga mempengaruhi hirarki dan sifat dari ruang tersebut.


2. Guna lahan

a. Elemen pembentuk kawasan pedesaan

1) Perairan

Gampong Lubuk Sukon dilewati Sungai Krueng Aceh dengan lebar 30-50 meter, yang membatasi Gampong Lubuk Sukon dengan jalan utama dan Gampong-Gampong disekitarnya. Sungai ini berperan penting dalam pemilihan lokasi sebagai tempat bermukim. Pada tahun 1920, para ulama dan sufi sebagai penduduk awal Gampong, tidak membangun permukimannya dekat dengan sungai karena alasan keamanan, namun memilih wilayah pedalaman yang masih berupa hutan. Penduduk hanya membuka jalan setapak menuju sungai, karena ketergantungan terhadap air sangat tinggi. Keberadaan sungai juga mempengaruhi mata pencaharian penduduk di bidang pertanian. Sawah-sawah penduduk berada dekat dengan sungai.

Pada perkembangannya, Keuchik tidak mengizinkan pembangunan rumah untuk berkembang di kawasan sekitar sungai, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (1) volume air cukup tinggi yang menyebabkan terjadinya banjir tahunan. Pemerintah sempat membangun tanggul di wilayah studi untuk menghindari banjir; (2) kawasan perairan tetap dipertahankan sebagai sumber kehidupan yang harus dipelihara masyarakat. Sekitar awal 1970-an hingga akhir 1980-an, cabang aliran sungai yang berada di bagian Barat Gampong perlahan mengering karena penebangan hutan.

Pada tahun 1989, Sungai Krueng Aceh mulai mengering secara total, meskipun masih terdapat sebagaian genangan air. Pada periode ini, sistem irigasi mulai dikembangkan untuk kawasan pertanian di bagian Timur Gampong, mengikuti arah perkembangan permukiman.

2) Hutan

Lahan hutan dibuka untuk mendirikan beberapa bangunan, yang kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan. Penduduk juga membuka dan memanfaatkan lahan hutan untuk ladang, sawah, dan kebun. Lahan untuk ladang dan kebun berada dekat kawasan permukiman, dan lahan untuk sawah berada di dekat sungai. Pada awalnya, Gampong Lubuk Sukon mempunyai seorang peutua uteuen yang mengatur pemanfaatan kawasan hutan, agar tetap terjaga kelestariannya. Pemanfaatan lahan yang terus berkembang pada tahun 1950-an, menggantikan posisi peutua uteuen menjadi peutua seuneubok (pemimpin kawasan ladang dan kebun). Saat ini, hampir tidak terdapat hutan di Gampong Lubuk Sukon.

3) Permukiman

Tahap dibukanya Gampong Lubuk Sukon ditandai dengan dibangunnya beberapa rumah dan sebuah meunasah. Penempatan bangunan hunian yaitu pada lahan di sekitar meunasah. Para sufi dan ulama yang merupakan penduduk awal Gampong Lubuk Sukon mengikuti tradisi leluhur di daerah asal mereka, yaitu membangun rumah panggung (rumoh Aceh dan rumoh santeut) yang mengarah ke kiblat shalat.

Pada perkembangannya, rumah-rumah mulai dibangun di Dusun Darussalam, yaitu pada lahan di sekitar meunasah. Ketika penduduk semakin bertambah, penduduk mengambil lahan di bagian Timur Gampong, yaitu Dusun Darusshalihin dan Dusun Darul Alam. Penataan bangunan hunian dilakukan berdasarkan hubungan kekerabatan.

Pada awal tahun 1980an, mulai muncul rumah modern karena pengaruh pergeseran nilai-nilai kepercayaan, tingkat pendidikan, variasi mata pencaharian, dan perkembangan infrastruktur.

4) Pertanian

Lahan pertanian yang pertama (1920-1950), yaitu lahan dekat sungai di bagian Selatan Gampong. Pada periode ini, hampir semua penduduk bermatapencaharian sebagai petani.

Perkembangan lahan pertanian selanjutnya, yaitu di bagian Timur Gampong, di luar kawasan permukiman. Lahan untuk kebun dan ladang di Gampong Lubuk Sukon terletak dekat dengan kawasan permukiman penduduk, sedangkan sawah berada agak jauh dari permukiman. Hutan di sekitar permukiman dan lokasi persawahan (blang) menjadi batas Gampong, untuk melindungi Gampong secara fisik dan menghambat pihak luar yang akan masuk ke dalam.

Pada akhir tahun 1980-an, lahan pertanian tidak lagi berkembang dengan pesat dan mulai terjadi pergeseran mata pencaharian penduduk dari petani ke jenis pekerjaan lainnya.

5) Infrastruktur

Pada tahun 1920-an, hanya terdapat jalan setapak sebagai akses dari sungai Krueng Aceh menuju ke hutan, yang merupakan cikal bakal permukiman Gampong Lubuk Sukon. Jalan ini menjadi jalan utama dan terus menyambung dengan Gampong Dham Pulo serta ke wilayah lainnya di Mukim Lubuk. Sarana yang ada pada periode 1920-1950 adalah meunasah dan bale.

Pada tahun 1972, pemerintah membangun jembatan yang lebih layak untuk membuka akses dari jalan arteri primer (Jalan raya Banda Aceh-Medan) menuju Mukim Lubuk. Jembatan ini terus diperbaiki hingga menjadi jembatan beton yang kokoh di tahun 1989. Pada periode ini, jalan-jalan baru mulai terbentuk sesuai dengan aksesibilitas yang dibutuhkan masyarakat. Jalan menjadi batas antar halaman-halaman rumah penduduk. Infrastruktur jalan yang lebih baik berpengaruh pada perkembangan Gampong, yaitu mulai muncul fasilitas umum seperti klinik kesehatan, sekolah-sekolah, lapangan olahraga, makam, dan sarana perdagangan.

6) Tanah kosong

Penduduk memanfaatkan lahan kosong yang ada di Gampong Lubuk Sukon sebagai tempat hunian (permukiman). Namun, ada ketentuan dalam konsep tata ruang tradisional yang memberlakukan hariem krueng, yaitu tanah bebas, dan tidak boleh dimiliki siapapun. Hal ini berarti penduduk juga tidak boleh membangun rumah pada kawasan ini.

b. Peletakan elemen

Transek Gampong yang meliputi kondisi topografi, guna lahan, dan status kepemilikan tanah (Gambar 3 dan Gambar 4), dijelaskan sebagai berikut:

1)      Keadaan wilayah bagian Selatan berupa sungai, perkebunan, dan sawah. Sungai di Gampong Lubuk Sukon berada di bagian seunebok. Di sepanjang sisi sungai terdapat persawahan atau ladang, dan bale untuk tempat para petani berteduh. Sungai tidak dijadikan sebagai tempat bermukim karena masyarakat Aceh menganggap sungai sebagai kawasan yang harus dijaga kelestariannya, dan menempatkan berbagai tanaman penyangga di sepanjang sisi sungai (jalur boinah). Seunebok di Gampong Lubuk Sukon merupakan wilayah rimba yang beralih fungsi. Perkebunan mendominasi lahan di wilayah ini, dengan jenis vegetasi meliputi kelapa, pisang, dan jagung.

2)      Bagian Barat Gampong merupakan kawasan hutan yang masih dipertahankan oleh penduduk. Hutan ini merupakan bagian dari kawasan konservasi yang disebut boinah oleh masyarakat Gampong Lubuk Sukon, sehingga diperbolehkan untuk dikelola secara ekonomi namun tidak untuk pengembangan permukiman. Setelah areal hutan, terdapat pula seunebok.

3)      Di bagian tengah, terdapat permukiman penduduk. Rata-rata tiap penduduk memiliki pekarangan dan menanaminya dengan jenis tumbuh-tumbuhan produktif yang menghasilkan buah-buahan dan sayur-sayuran untuk kebutuhan dapur. Beberapa fasilitas umum milik Gampong, seperti meunasah, sekolah TK dan kantor keuchik juga terdapat di wilayah ini. Di Gampong Lubuk Sukon, tumpok menunjukkan bagian tengah Gampong yang di dalamnya terdapat tempat hunian atau rumoh. Arah dan orientasi bangunan rumah adalah menghadap kiblat atau arah timur-barat. Tumpok juga memperlihatkan bahwa pola permukiman di Gampong Lubuk Sukon adalah memusat, terlihat dari letak permukiman yang dibatasi oleh kawasan blang dan seunebok.

4)      Di bagian Utara Gampong Lubuk Sukon, merupakan wilayah perbatasan dengan Gampong Dham Pulo. Disini lebih banyak terdapat fasilitas umum dengan skala kecamatan, yaitu berupa lapangan dan bangunan untuk fasilitas olahraga, SMU 1 Ingin Jaya, Balai Pelatihan Pendidikan milik pemerintah daerah, mesjid Mukim Lubuk, makam. Topografi di wilayah ini adalah datar dan jalan yang ada sudah berupa aspal. Makam umum juga terdapat di ujong bagian Utara Gampong, yaitu di perbatasan antara kawasan perumahan dengan lahan pertanian (blang atau seunebok), berada tepat di depan mesjid Mukim Lubuk.

5)      Di bagian Timur Gampong, terdapat areal persawahan yang disebut blang. Blang sekaligus menjadi batas antara Gampong Lubuk Sukon dengan Gampong Lubuk Gapuy.


Gambar 3 Transek lintasan Selatan-Utara

Gambar 4 Transek lintasan Barat-Timur

Super impose elemen-elemen pembentuk permukiman dan penelusuran transek, diketahui bahwa alokasi peruntukan lahan berdasarkan fungsi sudah berlaku dalam masyarakat tradisional Gampong Lubuk Sukon. Tata guna lahan berkembang secara alami karena dorongan faktor kebutuhan, terutama untuk sistem jalan yang mengikuti perkembangan perumahan. Fasilitas pelayanan sosial dan kawasan permukiman terdapat di sekitar meunasah, dan peruntukan lahan pertanian atau lahan usaha terdapat di luar kawasan permukiman. Di dalam arahan peruntukan lahan tersebut, terdapat batasan-batasan yang harus ditaati untuk mewujudkan keteraturan di dalam memanfaatkan lingkungan dan memelihara keseimbangan ekosistem, yang disebut dengan konsep tata ruang tradisional (Gambar 5).


Gambar 5 Peletakan elemen-elemen permukiman di Gampong Lubuk Sukon

Pembagian ruang di Gampong Lubuk Sukon sesuai dengan tata peletakan elemen ruang permukiman tradisional (Gambar 6), yaitu sebagai berikut:

1)      Kawasan permukiman, terdiri dari rumah-rumah dan meunasah, berada di wilayah tumpok yang memusat di tengah-tengah Gampong Lubuk Sukon. Perkembangan kawasan permukiman, berupa rumah-rumah baru dan tambahan fasilitas umum, berada di wilayah ujong, yaitu kawasan yang terletak di antara tumpok dan ujong. Keberadaan kawasan ujong tidak terlepas dari bentuk asal dari Gampong Lubuk Sukon yang merupakan sebuah pemukiman yang tertutup. Gampong dikelilingi pagar tanaman dan semak belukar, untuk melindungsi kawasan tumpok. Pada area tumpok dan ujong, tiap individu mengenal secara personal elemen-elemen lingkungan dan komunitas yang ada di dalamnya. Dalam Al-Hadist yang juga tercantum dalam Hadih Maja Kesultanan Aceh Darussalam, wilayah tumpok dan ujong merupakan satuan lingkup lingkungan yang disebut haraat.

2)      Lahan usaha, dalam hal ini peruntukan lahan pertanian, berada di luar wilayah permukiman, yaitu blang.

Gambar 6 Pembagian ruang di Gampong Lubuk Sukon

3. Ruang budaya

a. Berdasarkan aktivitas harian

Hasil kuisioner, teridentifikasi bahwa kegiatan harian penduduk Gampong Lubuk Sukon sebagai muslim masih dalam lingkup lingkungan atau masih dalam lokasi Gampong. Secara mingguan, aktivitas yang dilakukan bisa mencakup home range pada tingkatan Mukim dan Kecamatan, bahkan kota lain (Gambar 7).

Gambar 7 Pergerakan penduduk Gampong Lubuk Sukon dalam home range

Area inti yang paling sering dipakai adalah meunasah sebagai pusat aktivitas, tempat kerabat sebagai tempat bersosialisasi antar masyarakat, dan sawah/ladang, sebagai tempat bekerja.

b. Berdasarkan ritual

Tempat dan cakupan ruang dalam peristiwa ritual yang ada di Gampong Lubuk Sukon pada dasarnya beragam, serta menunjukkan adanya penggunaan ruang yang tetap maupun temporal. Gambaran bahwa masyarakat masih sangat memegang teguh kepercayaan dan agama Islam, tampak pada keberadaan meunasah yang menjadi tempat pelaksanaan ritual tetap, karena sudah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Melalui pelaksanaan ritual terkait daur hidup, seperti kelahiran, paling banyak muncul adalah ruang temporal. Sebaliknya pada pelaksanaan ritual keagamaan seperti Maulud Nabi Muhammad, ruang ritual bersifat permanen, karena peristiwanya rutin dilaksanakan sekali setahun, berskala Gampong dan Mukim, bertempat di meunasah.

Keseluruhan ritual yang dilakukan masyarakat, baik di dalam kegiatan sehari-hari maupun pada ritual berdasarkan kepercayaan, selalu menggunakan ruang-ruang dalam permukiman. Penggunaan ruang berdasarkan fungsinya, memperlihatkan struktur ruang permukiman (Gambar 8).

Gambar 8 Struktur dan Hirarki Ruang Permukiman Gampong Lubuk Sukon

Gambar 8 menunjukkan bahwa area inti yang paling sering dipakai adalah meunasah dan kawasan permukiman (tumpok). Namun, fungsi meunasah mempunyai hirarki yang lebih tinggi, karena aktivitas yang terjadi di dalamnya merupakan aktivitas inti, yaitu shalat dan ritual-ritual kebudayaan yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat Gampong Lubuk Sukon. Tumpok menjadi linkage dari pusat orientasi meunasah, dipengaruhi oleh masyarakat Gampong Lubuk Sukon yang sangat erat kekerabatannya, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan hablumminannaas selalu melibatkan kerabat. Struktur dan hirarki ruang permukiman Gampong Lubuk Sukon, dijelaskan sebagai berikut:

1) Meunasah, sebagai pusat aktivitas.

Elemen tempat ibadah ini merupakan simbol pemersatu penduduk Gampong, karena fungsinya dimanfaatkan oleh semua penduduk dalam satu Gampong. Selain digunakan untuk kegiatan yang bersifat ibadah seperti shalat, pengajian dan perayaan keagamaan, meunasah juga digunakan sebagai tempat berkumpul masyarakat untuk bermusyawarah atau membicarakan permasalahan Gampong. Tempat ibadah ini mempunyai hirarki yang disesuaikan dengan kapasitas dan jangkauan pelayanan yang dapat ditampung, yaitu meunasah pada tingkatan Gampong dan mesjid pada tingkatan mukim.

2) Tempat kerabat, sebagai tempat bersosialisasi antar masyarakat.

Pada ruang kerabat ini, penduduk secara personal mengenal tiap anggota komunitasnya. Kedekatan masyarakat Gampong Lubuk Sukon didasarkan pada hubungan darah/saudara, yaitu kekerabatan batih atau keluarga besar. Bentuk sosialiasi ini berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan daur hidup, misalnya untuk sekedar bersilaturrahmi, memenuhi undangan kelahiran dan perkawinan, menjenguk dan membantu yang terkena musibah, dan lain sebagainya.

3) Sawah/ladang, sebagai tempat bekerja.

Ruang ini menjadi bagian dari core area Gampong Lubuk Sukon, berkaitan dengan jumlah penduduknya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, sawah/ladang juga menjadi tempat masyarakat melakukan ritual Kanduri Blang sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen mereka.

Struktur ruang permukiman berdasarkan analisis ruang budaya di Gampong Lubuk Sukon juga memperlihatkan tiga macam teritori, yaitu sebagai berikut:
a) Teritori primer
Merupakan tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya yang hanya boleh dimasuki oleh orang yang sudah sangat akrab hubungannya dan sudah mendapat izin khusus. Pada struktur ruang permukiman di Gampong Lubuk Sukon, rumah adalah bagian dari teritori primer atau disebut juga sebagai wilayah privat.

b) Teritori sekunder
Merupakan tempat-tempat yang dimiliki bersama dan sejumlah orang-orang yang sudah cukup mengenal. Halaman yang digunakan secara komunal berdasarkan hubungan kekerabatan yang ada pada pekarangan rumah di GampongLubuk Sukon merupakan teritori sekunder, sehingga tidak ada izin khusus untuk memasuki wilayah yang dianggap semi privat atau semi publik.

c) Teritori tersier
Merupakan tempat-tempat yang terbuka untuk umum. Meunasah, mesjid, makam, dan sawah merupakan tempat yang dikategorikan sebagai teritori publik. Penggunaan ruang publik ini bersifat bebas karena bisa digunakan oleh siapa saja.

4) Pola tata ruang tempat tinggal

a) Rumah dan pekarangan
Kepadatan bangunan yang ada di Gampong Lubuk Sukon didominasi oleh rumoh Aceh, yaitu sebanyak 69 unit. Selain itu, terdapat 58 unit rumah santeut dan 64 unit rumah modern. Rumah dengan tipologi bahan konstruksi rumah kayu paling banyak terdapat pada kelompok hunian Darul Ulum dan dibangun pada tahun 1950-1980 (15.15%), sedangkan rumah dengan tipologi konstruksi rumah beton (rumah modern) merata terdapat pada kelompok hunian Darul Ulum, Darussalam, dan Darusshalihin. Rumah modern sebagian besar dibangun pada tahun 1981-1990 (13.64%). (Gambar 9)

Gambar 9 Rumah dan Pekarangan - Rumoh Aceh

Gambar 9 Rumah dan Pekarangan - Rumoh Santeut

Gambar 9 Rumah dan Pekarangan - Rumoh Modern

Dari 66 sampel rumah, rumoh Aceh mempunyai elemen paling lengkap, yaitu sebanyak 100% responden yang memiliki rumah Aceh masih mempunyai kolong, sumur, dan tanaman. Sebanyak 100% rumoh santeut yang dimiliki responden juga masih mempunyai elemen kolong dan tanaman, namun elemen lainnya seperti kandang, sumur/bak, dan balee kayee sudah hilang atau berkurang jumlahnya. Rumah beton merupakan bangunan yang tidak memperhatikan elemen pada pekarangan yang biasanya terdapat pada ruang tradisional Aceh. Elemen kandang dimiliki oleh 19.05% rumah dengan konstruksi beton, tidak dilatarbelakangi oleh kesesuaian terhadap elemen tradisional namun karena pemilik rumah memelihara ternak. (Gambar 10).


(Group Gambar)
1 Halaman Rumah Aceh

2 Jalan Masuk Menuju Rumah Aceh

3 Kolong Tempat Menyimpan Padi

4 Kandang Unggas Selalu Terletak di
Sebelah Kiri Rumah, dan Agak Jauh dari Rumah

5 Balee tempat berkumpul warga

 6 Tempat menyimpan air yang selalu dekat
dengan tangga

7 Kamar mandi terletak di luar rumah

8 Balee Kayee atau tempat menyimpan kayu
Gambar 10 Elemen dalam pekarangan rumah tradisional Aceh


Lumbung merupakan elemen yang hilang pada pekarangan rumah di Gampong Lubuk Sukon. Hal ini disebabkan karena sebagian besar rumah tidak lagi menggantungkan hidupnya dalam bidang pertanian. Adapun elemen yang masih tetap dipertahankan oleh penduduk Gampong Lubuk Sukon adalah tanaman pada halaman rumah, yaitu sebanyak 100%.

b) Struktur tata ruang tempat tinggal
Fungsi ruang tempat tinggal masyarakat Aceh menunjukkan bahwa secara tradisional rumoh Aceh diperuntukkan untuk perempuan atau disebut juga sebagai rumoh inong, yaitu sebagai berikut:
(1)    Seuramoe keue sebagai tempat menerima tamu laki-laki, tempat mengaji dan belajar anak laki-laki, sekaligus tempat tidur anak laki-laki, serta kepentingan umum lainnya.
(2)    Seuramoe teungoh (serambi tengah) atau tungai bersifat tertutup sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai kamar tidur. Kamar sebelah barat ditempati oleh kepala keluarga (ibu dan ayah), dan kamar sebelah timur (rumoh andjoeng) ditempati oleh anak perempuan. Jika sebuah keluarga mempunyai lebih dari satu anak perempuan, maka kepala keluarga membuat rumah terpisah atau terpaksa pindah ke belakang bagian barat. Serambi tengah disebut juga dengan rumoh inong (rumah perempuan) karena laki-laki yang bukan muhrim tidak diizinkan untuk memasuki zona tungai ini.
(3)    Serambi belakang (seuramoe likot) merupakan ruang tambahan yang sering disebut dengan ulee keude, dan berfungsi sebagai dapur.

Pembagian ruang (Gambar 11) yang memperlihatkan adanya pembedaan antara zona laki-laki dan zona perempuan, dipengaruhi oleh aturan perkawinan dan adat peunulang yang berlaku. Rumah merupakan milik perempuan dan laki-laki dianggap sebagai tamu yang harus dihormati, sehingga tidak diperbolehkan untuk memasuki serambi tengah dan dapur. Peraturan adat ini berkaitan dengan ajaran agama Islam yang memisahkan ruang privat antar gender, sehingga rumoh Aceh di disain untuk melindungi perempuan agar tidak terlihat auratnya oleh laki-laki yang bukan muhrimnya, serta dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kriminalitas dan lain sebagainya.


Gambar 11 Pembagian ruang dalam Rumoh Aceh

Fungsi dan peruntukan ruang-ruang pada rumoh Aceh membentuk struktur ruang tempat tinggal, yaitu dari frekuensi dan tingkat kepentingan berdasarkan penggunaan ruang dalam kegiatan keluarga sehari-hari dan saat terjadi ritual. Seuramoe keue (serambi depan) merupakan ruang yang paling sering digunakan dalam aktivitas berskala rumah tangga (mikro). Ruang ini merupakan core area (area inti/pusat) dari rumoh Aceh, karena menjadi tempat berkumpul, baik antar anggota keluarga maupun dengan kerabat yang lebih jauh, ketika terjadi ritual budaya, tanpa adanya pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya pada ruang lainnya yang menjadi pinggiran (periphery), yaitu seuramoe teungoh (tungai) dan dapur, hanya diperbolehkan untuk perempuan. Struktur ruang pada rumoh Aceh menunjukkan dualisme, yaitu bagian pusat untuk laki-laki serta tempat untuk berbagai acara ritual, sementara bagian pinggiran untuk perempuan. Dualisme terjadi karena sistem sosial budaya yang dianut masyarakat Gampong Lubuk Sukon, yaitu dualisme antara ajaran Islam yang cenderung patriarkal, dengan adat peunulang Aceh yang bersifat matriarkal. Meskipun pada dasarnya rumah merupakan milik perempuan dan dikuasai oleh perempuan, nilai-nilai patriarkal yang menghormati kaum laki-laki, tetap dipegang teguh oleh masyarakat Gampong Lubuk Sukon. Struktur dualisme ini disebut oleh Levi Strauss (1963:142) sebagai keseimbangan sosial. Struktur ruang pada rumoh Aceh di Gampong Lubuk Sukon, dapat dilihat pada Gambar 12.


Gambar 12 Pembagian ruang dalam Rumoh Aceh

c) Pola tata bangunan
Tata bangunan yang terdapat di Gampong Lubuk Sukon membentuk pola-pola yang dapat dilihat berdasarkan letak, orientasi, dan konfigurasi susunannya. Struktur tata bangunan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu antara lain:
(1)    Faktor hukum adat yang menuntut orangtua untuk menyediakan hareuta peunulang bagi anak perempuan. Rumah peunulang ini pada umumnya dibangun dekat dengan rumah inti keluarga (rumah orangtua), sehingga dalam satu halaman besar milik keluarga terdiri dari beberapa rumah yang dapat ditelusuri berdasarkan sistem kekerabatan.
(2)    Faktor tata nilai spiritualitas penduduk Gampong Lubuk Sukon yang memandang arah Barat sebagai arah yang diutamakan. Pandangan ini berhubungan dengan faktor kepercayaan bahwa kiblat shalat bagi umat Islam berada di sebelah Barat. Selain itu, diketahui bahwa angin di daerah Aceh demikian kencangnya, sehingga bila membangun atau mendirikan rumah berlawanan dengan arah angin akan mengurangi ketahanan rumah;
(3)    Faktor perkembangan infrastruktur dan keterkaitan dengan sumber-sumber ekonomi, seperti rumah yang menghadap ke jalan, atau rumah petani yang menghadap ke arah sawah atau perkebunan.

Sistem kekerabatan memperlihatkan pola bangunan yang khas pada permukiman tradisional Aceh. Keluarga inti menurut garis perempuan (peunulang), selalu mempersiapkan rumah untuk ditinggali anak-anak perempuan mereka di kemudian hari. Hasil analisis family tree memperlihatkan bahwa rumah-rumah dalam permukiman di Gampong Lubuk Sukon mengelompok berdasarkan kekerabatan, dengan tipologi sebagai berikut:

(1)    Keluarga inti senior menyediakan rumah yang ditempatkan dalam satu pekarangan kepada anak-anak perempuannya (hareuta peunulang), yaitu bersebelahan dengan rumah inti. Jika suatu keluarga mempunyai anak perempuan yang cukup banyak, maka kebun dapat dijadikan lahan untuk membangun rumah baru. Rumah keluarga inti senior biasanya diwariskan kepada anak perempuan terakhir. Harta peunulang selanjutnya dibangun bersebelahan dengan rumah inti. Jika lahan tidak memungkinkan, maka rumah baru dibangun di bagian belakang rumah (Gambar 13).

Gambar 13 Kelompok hunian berdasarkan kekerabatan tipologi I

(2)    Keluarga inti senior menyediakan harta peunulang, agak jauh dari rumah inti, dengan mempertimbangkan lahan bagi kemungkinan penambahan rumah peunulang yang harus disediakan anak-anaknya kelak. Pada tipologi ini, pemilihan lahan tidak mengikuti aturan pola menetap masyarakat Aceh. Bangunan bisa ditempatkan di belakang, depan, atau di samping rumah inti, tergantung dari lahan yang tersedia dan kesepakatan antar keluarga (Gambar 14).

Gambar 14 Kelompok hunian berdasarkan kekerabatan tipologi II

Arah orientasi bangunan, ditemukan bahwa semua rumoh Aceh di Gampong Lubuk Sukon menghadap ke Barat (kiblat). Dari keseluruhan sampel bangunan, sebanyak 16.67% menghadap ke Utara, 3.03% menghadap ke Selatan, 6.06% menghadap ke Timur, dan 65.15% menghadap ke Barat.

Hasil analisis yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah pada studi ini, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

Kesimpulan

1. Karakteristik sosial budaya

Karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon ditinjau dari unsur-unsur kebudayaan, berpengaruh pada bentukan pola tata ruang permukiman tradisional.

Pada kelembagaan pemerintahan terdapat struktur atau hierarki yang berlaku, dimulai dari kepemimpinan imeum mukim pada tingkatan Mukim, keuchik pada tingkatan Gampong, hingga Kasun pada tingkatan Dusun (Darul). Masing-masing kepemimpinan dibagi berdasarkan hierarki ruang dari makro hingga ke mikro. Selain itu, terdapat struktur kepemimpinan yang sesuai dengan pembagian pemanfaatan ruang. Keuchik sebagai kepala permukiman, bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat Gampong, sedangkan untuk pemanfaatan kawasan pertanian ditangani oleh keujruen blang. Aktivitas kelembagaan di Gampong Lubuk Sukon menciptakan fungsi pada ruang-ruang yang digunakan, yang memperlihatkan sifat dan hierarkinya dalam ruang permukiman. Pola tata ruang yang khas, terbentuk oleh sistem waris peunulang dan adat menetap nikah matrilokal, juga dipengaruhi oleh sistem kekerabatan di Gampong Lubuk Sukon.

2. Pola tata ruang permukiman tradisional Gampong Lubuk Sukon

Pola tata ruang permukiman di Gampong Lubuk Sukon sangat dipengaruhi oleh sistem sosial dan budaya masyarakatnya yang beragama Islam. Struktur ruang yang terbentuk memenuhi pola radial, dengan orientasi meunasah. Adapun elemen-elemen lainnya yang membentuk struktur ruang di Gampong Lubuk Sukon adalah perumahan dengan keluarga muslim sebagai penghuninya, fasilitas pelayanan seperti sarana pendidikan, perkantoran, perdagangan, dan sebagainya, dan lahan usaha untuk agraris atau pengelolaan alam lainnya. Sistem pengaturan ruang secara makro adalah pembagian ruang berdasarkan fungsi guna lahan yang terbentuk secara alami. Kawasan permukiman memusat di tengah-tengah dilengkapi dengan meunasah yang terletak di wilayah tumpok. Fasilitas umum berada di sekitar kawasan permukiman, terletak di wilayah ujong. Lahan usaha, yaitu lahan pertanian, berada di luar wilayah permukiman, disebut dengan blang. Struktur ruang budaya di Gampong Lubuk Sukon menunjukkan meunasah sebagai pusat aktivitas. Selanjutnya adalah tempat kerabat sebagai tempat bersosialisasi antar masyarakat, dan sawah/ladang sebagai tempat bekerja.

Pada skala yang lebih mikro, pola tata ruang permukiman masyarakat Gampong Lubuk Sukon terbentuk berdasarkan sistem kekerabatan, yaitu rumah orangtua menjadi bangunan inti (pusat) dari kelompok hunian suatu keluarga. Wujud kekerabatan ini terdiri dari keluarga inti senior yang tinggal berdekatan dengan keluarga inti dari anak-anak perempuannya, sesuai dengan adat menetap nikah matrilokal dalam masyarakat Aceh. Dalam tataran rumah dan pekarangan, seuramoe keue (serambi depan) merupakan pusat dari bangunan rumoh Aceh. Ruang lainnya yang menjadi pinggiran (periphery), adalah seuramoe teungoh (tungai) dan dapur, hanya diperbolehkan untuk perempuan. Struktur ruang pada rumoh Aceh menunjukkan dualisme antara ajaran Islam yang cenderung patriarkal, dengan adat peunulang Aceh yang bersifat matriarkal.

Saran

Rekomendasi yang dapat dipakai sebagai bahan masukan dari studi Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional, yaitu studi mengenai konsep arahan pelestarian untuk mempertahankan pola tata ruang permukiman tradisional di Aceh, termasuk di dalamnya arahan tata bangunan dan lingkungan, serta studi mengenai tindakan pelestarian bagi bangunan tradisional yang ada di Gampong Lubuk Sukon

Daftar Pustaka

Hurgronje, S. 1985. Aceh di Mata Kolonialis. Jilid I. Jakarta: Yayasan Soko Guru.

Lombard, D. 2006. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Koentjaraningrat. 1982. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press

Oswald, F. & Baccini, P. 2003. Netzstadt Einführung in das Stadtentwerfen. Berlin: Birkhäuser-Verlag für architektur.

Rapoport, A. 1993. Development, Culture, Change and Supportive Design. USA: University of Wisconsin-Milwaukee.

Syarief, S. M. 2005. Gampong dan Mukim di Aceh, Menuju Rekonstruksi Pasca Tsunami. Bogor: Pustaka Latin.


No comments: